Friday, September 26, 2008
Tuesday, September 9, 2008
Kembali ke Rutinitas
September ini saya kembali menjalani rutinitas seperti 3 tahun yang lalu. Berangkat pagi ke Serpong, pulang sore. Walau kadang tidak ada kegiatan yang menghasilkan, tetap saja saya harus datang untuk mengisi absensi.
Ada sih ide untuk memasarkan beberapa produk dari kantor seperti : BIOLESTA (Biofungisida) BIOFERTILIZER, BIOCOMPOSTER, JASA EKSTRAKSI , dll. Tapi sampai sekarang belum sempat bikin brosurnya lagi. Kalau dipublikasi di web, saya masih belum yakin apa informasinya sampai ke pengguna yang notabene adalah petani. Sementara petani kita masih sedikit yang mencari tahu di internet. Kalaupun ada, biasanya adalah petani berdasi, atau malahan pedagang pupuk dan komoditas.
BTW, tidak apalah. Siapa tahu ada pembaca yang punya bapak petani.
Mau tahu info lengkapnya produk-produk tsb? Hubungi saya di 0858 80008562. atau email ke suprionoatwebmail.bppt.go.id
Ada sih ide untuk memasarkan beberapa produk dari kantor seperti : BIOLESTA (Biofungisida) BIOFERTILIZER, BIOCOMPOSTER, JASA EKSTRAKSI , dll. Tapi sampai sekarang belum sempat bikin brosurnya lagi. Kalau dipublikasi di web, saya masih belum yakin apa informasinya sampai ke pengguna yang notabene adalah petani. Sementara petani kita masih sedikit yang mencari tahu di internet. Kalaupun ada, biasanya adalah petani berdasi, atau malahan pedagang pupuk dan komoditas.
BTW, tidak apalah. Siapa tahu ada pembaca yang punya bapak petani.
Mau tahu info lengkapnya produk-produk tsb? Hubungi saya di 0858 80008562. atau email ke suprionoatwebmail.bppt.go.id
Monday, August 11, 2008
Melepas untuk tetap mengikat
Mungkin terdengar sedikit kontradiktif. Tapi memang itulah yang 'terpaksa' saya lakukan demi keselamatan hidup anak-anakku. Keselamatan dari ancaman pergaulan yang tak terkendali, pengaruh televisi, pengaruh tingkah polah orang di jalan. Kenapa hal-hal itu jadi ancaman.
Memang hidup ini adalah pilihan. Semuanya sangat tergantung pada pilihan kita. Tidak ada kata tidak ada pilihan. Yang ada adalah konsekuensi terhadap setiap pilihan.
Putri sulung saya memasuki sekolah menengah atas. Ia memilih untuk bersekolah sambil 'nyantri'. Sebagai orangtua saya memberinya alternatif pada beberapa pondok pesantren yang saya tahu cukup baik dan biayanya terjangkau. Yaitu di Gading mangu Jombang, Teluk Jambe Karawang, dan di Serbajadi Lampung. Dan konsekuensi yang saya hadapi sama, yaitu melepas Tami (namanya) tinggal di asrama dan tidak berada dirumah hingga liburan sekolah tiba.
Melepas anak sulung saya ini berarti juga berkurang satu tenaga yang mengurus rumah, mengajak main si kecil, membantu memasak dan membantu mengoreksi tugas dan pr murid istri saya. Tapi itu juga memberi lingkungan baru yang lebih ketat bagi Tami, kawan-kawan yang terbatas, tidak nonton TV (kecuali TVE disekolah), tidak telpon sana/i dgn hp dll. Tapi itu juga memberi dia waktu untuk mengaji 2x 1,5 jam sehari, belajar 5 jam, mencuci pakaian sendiri, tidak pacaran, tidak melihat tontonan orang pacaran di tv dan di jalan dan tidak melihat pertengkaran dendam yang sering dimunculkan di sinetron.
Apakah hal-hal terakhir itu bisa ia dapatkan dirumah? Jawabnya : bisa , tapi sulit. Terutama soal tontonan TV, apakah mungkin saya menyingkirkan TV dari rumah? Apakah mungkin membuat dia mengaji 2x sehari?
Jadi itu adalah konsekuensi. dan pilihan yang diambil adalah Tami mondok di Ponpes Margakaya, Teluk Jambe sambil bersekolah di SMU Budi Mulia Karawang.
Selamat menempuh ujian hidup , nak.
Label:
karawang,
pondok pesantren,
SMU Budi Mulia
Friday, June 13, 2008
Gagal kah saya?
Diantara hingar bingar siaran sepakbola EURO 2008, tadi malam saya merenungi keadaan yang harus saya hadapi. Persoalan kuliah yang tidak terselesaikan, dan melaporkan kegagalan studi ini ke kantor pemberi beasiswa.
Ada perasaan bahwa masih ada waktu sehari-dua hari untuk mengerjakan tugas, tetapi ketika memikirkan detail tugas yang harus dikerjakan, kemungkinan itu jadi sirna. Beberapa ungkapan berseliweran beberapa hari ini, mulai dari:
" Keuletan adalah ketika tangan masih mengerjakan sementara pikiran mengatakan sudah tidak mungkin dilakukan"
Tetapi badan dan pikiran ini sepertinya sudah kehabisan energi. Tak mampu menahan beban untuk memaksakan melakukan, bukan tidak ingin melakukan. Kerugian memang telah terpampang: rugi waktu tiga tahun, rugi biaya (-karena walaupun ada beasiswa, tetapi jauh dari cukup, sehingga sebagian gaji untuk hiduppun tersalur untuk kuliah--).
Saat saya mengerjakan pekerjaan lain diluar tugas kuliah, justru saya merasa bersemangat, tidak ada beban, bahkan lebih mempersungguh. Seakan semua ide, keinginan, dan prospek berjalan bersamaan.
Disatu sisi, kegagalan kuliah, pada dasarnya bagi saya adalah kegagalan mendapat ijazah, bukan kegagalan mendapatkan ilmu. Tapi apakah ilmu yang saya dapatkan akan berharga dimata atasan dan teman-teman sekerja?
Kegagalan mendapat ijazah, adalah kejatuhan gengsi, harga diri sebagai intelektual. Kehilangan kesempatan membanggakan orangtua, istri, dan anak-anak ku.
Tapi apakah memang itu yang mereka rasakan?
Istri saya berbicara: tidak S2 toh tidak menjadikan kita tidak makan.
Bapak dan Ibu saya pun tidak pernah mengeluhkan sebagian uangnya yang terpakai oleh saya. Anak-anakpun tak pernah tahu persis apa yang saya kerjakan.
Lalu apa yang saya gundahkan?
Mungkinkah masa depan saya hilang bila tahun ini tidak mendapat Master of Science?
Apakah Dunia akan lebih baik bila saya berhasil menyelesaikan S2?
Mengapa pula saya harus stress berkepanjangan, bahkan untuk kembali ke kantor saja saya enggan, sepertinya kaki saya diberati rantai terikat pada besi berton-ton.
Satu hal yang saya simpulkan, saya butuh bantuan. Bukan bantuan teknis, bukan bantuan keuangan, tetapi bantuan manajemen.
Manajemen kehidupan, manajemen prilaku, manajemen strategi, dan manajemen kejiwaan. Dan ini semua tidak tersedia dalam ASKES. Saya pikir justru ini yang perlu diberikan kepada para pegawai agar semangat mereka terjaga dan mengurangi beban mental dalam menghadapi masalah.
Lalu kemanakah saya harus bersandar berkonsultasi?
ANY SUGGEST FROM YOU?
Ada perasaan bahwa masih ada waktu sehari-dua hari untuk mengerjakan tugas, tetapi ketika memikirkan detail tugas yang harus dikerjakan, kemungkinan itu jadi sirna. Beberapa ungkapan berseliweran beberapa hari ini, mulai dari:
" Keuletan adalah ketika tangan masih mengerjakan sementara pikiran mengatakan sudah tidak mungkin dilakukan"
Tetapi badan dan pikiran ini sepertinya sudah kehabisan energi. Tak mampu menahan beban untuk memaksakan melakukan, bukan tidak ingin melakukan. Kerugian memang telah terpampang: rugi waktu tiga tahun, rugi biaya (-karena walaupun ada beasiswa, tetapi jauh dari cukup, sehingga sebagian gaji untuk hiduppun tersalur untuk kuliah--).
Saat saya mengerjakan pekerjaan lain diluar tugas kuliah, justru saya merasa bersemangat, tidak ada beban, bahkan lebih mempersungguh. Seakan semua ide, keinginan, dan prospek berjalan bersamaan.
Disatu sisi, kegagalan kuliah, pada dasarnya bagi saya adalah kegagalan mendapat ijazah, bukan kegagalan mendapatkan ilmu. Tapi apakah ilmu yang saya dapatkan akan berharga dimata atasan dan teman-teman sekerja?
Kegagalan mendapat ijazah, adalah kejatuhan gengsi, harga diri sebagai intelektual. Kehilangan kesempatan membanggakan orangtua, istri, dan anak-anak ku.
Tapi apakah memang itu yang mereka rasakan?
Istri saya berbicara: tidak S2 toh tidak menjadikan kita tidak makan.
Bapak dan Ibu saya pun tidak pernah mengeluhkan sebagian uangnya yang terpakai oleh saya. Anak-anakpun tak pernah tahu persis apa yang saya kerjakan.
Lalu apa yang saya gundahkan?
Mungkinkah masa depan saya hilang bila tahun ini tidak mendapat Master of Science?
Apakah Dunia akan lebih baik bila saya berhasil menyelesaikan S2?
Mengapa pula saya harus stress berkepanjangan, bahkan untuk kembali ke kantor saja saya enggan, sepertinya kaki saya diberati rantai terikat pada besi berton-ton.
Satu hal yang saya simpulkan, saya butuh bantuan. Bukan bantuan teknis, bukan bantuan keuangan, tetapi bantuan manajemen.
Manajemen kehidupan, manajemen prilaku, manajemen strategi, dan manajemen kejiwaan. Dan ini semua tidak tersedia dalam ASKES. Saya pikir justru ini yang perlu diberikan kepada para pegawai agar semangat mereka terjaga dan mengurangi beban mental dalam menghadapi masalah.
Lalu kemanakah saya harus bersandar berkonsultasi?
ANY SUGGEST FROM YOU?
Saturday, May 10, 2008
Capek deh bikin tesis
Jam 00:44 masih ngetik dengan laptop baru beli, walau pun seken, tapi lumayan, prosesor sudah DUO core. Asal tahu saja, uang untuk beli laptop ini meminjam ke bapakku. Tabungan sudah nggak ada, habis buat beli komponen buat tugas kuliah.
Sebenarnnya aku sudah hampir putus asa, terlalu banyak persoalan yang datang silih berganti menahanku mengerjakan tesisku. Padahal ini semester terakhir.Kalau gagal, ya sudah, berarti lepas sudah kesempatan tahun ini memegang gelar S2 dari UI, walau sebenarnya sudah punya S2 dari PT swasta, tapi rasanya malu juga kalau nggak selesai di UI.
Beginilah kalau kebanyakan loading, prosesor di kepalaku sudah sering hang. Bahkan beberapa waktu lalu, mataku tak bisa melihat ke monitor, LCD sekalipun. Mata kering katanya, air mata tidak bisa keluar, sementara mata terasa pedih seperti kelilipan .
Dengan modal nekat, setelah beli obat tetes mata airmata-buatan, dan selembar vitamin mata, lalu sore hari sebelum makan malam, melakukan SIRSASANA selama 15 menit, dilanjut besok paginya, juga 15 menit. Alhamdulillah, dalam 4 hari sudah bisa melihat monitor, dan sekarang juga bisa naik motor lagi.
Udah ah, mau nerusin ngetik tugas PLC lagi...
Sebenarnnya aku sudah hampir putus asa, terlalu banyak persoalan yang datang silih berganti menahanku mengerjakan tesisku. Padahal ini semester terakhir.Kalau gagal, ya sudah, berarti lepas sudah kesempatan tahun ini memegang gelar S2 dari UI, walau sebenarnya sudah punya S2 dari PT swasta, tapi rasanya malu juga kalau nggak selesai di UI.
Beginilah kalau kebanyakan loading, prosesor di kepalaku sudah sering hang. Bahkan beberapa waktu lalu, mataku tak bisa melihat ke monitor, LCD sekalipun. Mata kering katanya, air mata tidak bisa keluar, sementara mata terasa pedih seperti kelilipan .
Dengan modal nekat, setelah beli obat tetes mata airmata-buatan, dan selembar vitamin mata, lalu sore hari sebelum makan malam, melakukan SIRSASANA selama 15 menit, dilanjut besok paginya, juga 15 menit. Alhamdulillah, dalam 4 hari sudah bisa melihat monitor, dan sekarang juga bisa naik motor lagi.
Udah ah, mau nerusin ngetik tugas PLC lagi...
Subscribe to:
Posts (Atom)